TALIBUN
Talibun adalah jenis
puisi lama yang berbentuk pantun yang jumlah barisnya lebih dari empat baris.
Biasanya jumlah barisnya terdiri dari 6,8,10 dan seterusnya. Separoh bait di atas berupa sampiran dan separoh bait di bawah berupa isi. Berikut ini saya akan menghadirkan
tulisan saya yang berbentuk talibun. Kepada pembaca saya ucapkan selamat
menikmati.
LUPA JANJI
Karya:
Yusmarni
Ke bukit sama mendaki
Ke lurah sama menurun
Ambillah ranting jadikan tongkat
Lama menunggu pautan
hati
Rasakan lepas persendian
Takut kakanda datang terlambat
Bukittingi
kota wisata
Elok
alamnya indah menawanan
Wisata
kulinernya memikat selera
Walau
kakanda jauh di mata
Janji
kakanda lupakan jangan
Dinda
menunggu bersahaja
Azan bergema dipagi hari
Ingatkan umat untuk sembahyang
Menyembah pada Ilahi Rabbi
Bertemu kakanda muka
berseri
Terbang jauh angan melayang
Rupanya hanya di dalam
mimpi
Duduk
termenung memeluk bantal
Bantal
diapit dengan guling
Bersarung
batik dari Semarang
Memikirkan
kanda tertumbuk akal
Air
mata jatuh berguling
Bagaikan
manik putus pengarang
Buah perdu di dalam puan
Dijolok lalu tersangkut
Galah patah jatuh terpental
Jika tak bertemu kakanda tuan
Datanglah segera malaikat maut
Cabutlah nyawa serta ajal
Intan
permata dilokan hidup
Intan
diambil pendulang rakus
Kulit
dicampak bak sampah kumuh
Kulit
tercampak tiada berarti
Badan
serasa tak guna hidup
Tempat
bergantung sudahlah putus
Tempat berpijak
sudahlah rubuh
Arjuna
pujaan lupakan janji
Putri bernama Anggun Sari
Pergi ke kolam mandi berenang
Memakai kampan kain sutera
Sudah sampai bilangan janji
Kanda dinanti tak kunjung datang
Kanda berjanji melupakannya
Saribanun
Rang Bukittinggi
Duduk
menyulam dan menenun
Menenun
kain untuk kebaya
Habis
hari berganti hari
Menghitung
hari sambil melamun
Penantian
dinda sia-sia
Tengah hari panas berdentang
Datanglah kilat datang menyambar
Angin ribut hujanpun kencang
Bunga rebah tiada berdaya
Angin menerpa tak kenal kasihan
Masih
berharap kanda kan datang
Datanglah saudara membawa kabar
Hamba segera dipinang orang
Melawan saudara tiada berdaya
Merintih batin berharap kasihan
Angin
ribut disenja buta
Putting
beliung datang menyusul
Langit
gelap tanpa cahaya
Pandan
tumbang dari akarnya
Habislah
takut beranipun timbul
Pinangan
ditolak sudahlah nyata, badan terbuang dari saudara
Duduk bersimpuh memegang tasbih
Berzikir khusyuk kepada Tuhan
Mengharap ridho Ilahi Rabbi
Mengharap ampunan dari Yang kuasa
Angin berkisar awan bersilih
Rupanya hamba diperhatikan
Musyafir lalu mengincar diri
Berperang
selimut dengan bantal
Entah
yang mana yang paling bermutu
Menghantarkan
lelap paduka tuan
Tertidur
pulas dikala malam
Sedang
pikiran tertumbuk akal
Fikiran kosong
badanpun lesu
Pinangan
musyafir di iakan
Hidup
bak sayur tanpa bergaram
Sejuk berembus Si angin malam
Sejuk terasa sampai ketulaang
Menembus langsung kepori-pori
Merasuk dinginnya ke dalam jiwa
Angin berembus sampaikan salam
Cintaku bagaikan bulan dan bintang
Cinta digunggung Si matahari
Kunanti kanda di pintu surga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar